Kebutuhan akan kecepatan yang lebih
tinggi
Perlu dicatat bahwa meskipun telah terjadi perbaikan yang
sangat luar biasa sejak sekitar 15 tahun yang lalu (kecepatan transmisi
meningkat hampir 1000 kali lipat), tetapi tingkat kecepatan ini masih belum
mampu memenuhi kebutuhan saat ini. Masih dibutuhkan kecepatan transmisi data
sekitar 20 kali lipat lebih baik dibanding kecepatan saat ini. Kecenderungan di
masa depan, Internet akan memerlukan lebih banyak lebar pita guna menyajikan
pelayanan-pelayanan multimedia yang lebih kompleks.
Kecepatan tinggi bisa dicapai jika digunakan lebar pita yang
lebih besar seperti pemakaian fiber optik dan kabel koaxial. Meskipun begitu,
sambungan-sambungan kecepatan tinggi ini secara normal hanya ada diantara
pusat-pusat komunikasi, tidak bisa dicapai untuk komunikasi individual antar rumah
atau perkantoran biasa.
Fiber optik di sepanjang jalan (FTTC, fibre to the curb)
masih belum tersebar cukup luas di hampir semua wilayah di dunia dan tak
seorangpun yakin manakala fiber optik ke rumah-rumah (FTTH, fibre to the home)
akan segera menjadi kenyataan. Pengadaan infrastrukturnya masih membutuhkan
biaya modal yang besar yang harus ditanggung perusahaan telekomunikasi,
mengakibatkan sistem ini kurang menarik dan bukan merupakan solusi yang praktis
untuk masalah saat ini.
Modem-modem kabel juga berkompetisi untuk lebar pita yang
lebih luas. Meskipun sistem jaringan kabel multimedia (MCNS, multimedia cable
network system) belakangan meluncurkan standar industri yang memungkinkan
mempercepat skala penyebarannya, modem kabel juga mempunyai sejumlah
kekurangan. Kebanyakan jaringan kabel hanya menawarkan pelayanan satu arah dan
biaya untuk mengupgradenya cukup mahal. Juga modem-modem kabel memakai jalur
yang sama dengan yang dipakai pelanggan lain sehingga meningkatnya pemakai akan
sangat memperburuk kualitas komunikasi.
Sebagian besar jaringan-jaringan telpon pelanggan di dunia
dilakukan berbasis pada sepasang kabel tembaga. Mengganti infrastruktur yang
sudah ada, akan cukup berat dan mahal. Sehingga peningkatan komunikasi kecepatan
tinggi difokuskan pada teknik-teknik yang masih bisa memanfaatkan
jaringan-jaringan telpon tembaga yang sudah ada.
Metoda ADSL
Salah satu teknologi kecepatan tinggi yang saat ini paling
banyak didiskusikan dan banyak mendapat dukungan adalah digital subscriber line
(DSL). Teknologi DSL ini menyajikan transmisi data dalam range kecepatan
mencapai skala mega bit per detik dengan memanfaatkan jaringan telpon yang
sudah ada. Kecepatan tinggi dapat dicapai dengan membagi jalur telpon ke dalam
lebar pita 4 kHz. Ganggunan noise pada jalur, secara dinamik ditentukan oleh
jumlah bit per pita frekuensi dan jumlah pita yang dapat digunakan. Sebagai
contoh jika terjadi noise pada range frekuensi tertentu, pita pada range
tersebut jadi tidak tersedia dan data akan disistribusikan menggunakan
pita-pita frekuensi yang lain. Sebagai tambahan, dalam penyediaan komunikasi
kecepatan tinggi, DSL akan mem-bypass switch sehingga akan mengurangi kemacetan
di kantor sentral telpon. Ini akan memperpendek masa tunggu bagi pengguna
telpon untuk memutar nomor telpon yang dituju karena terjadinya kelebihan beban
pada switch.
Meskipun banyak jenis teknologi DSL, ADSL adalah salah satu
jenis DSL yang lebih bagus untuk aplikasi-aplikasi multimedia dan internet.
Sementara server atau kantor sentral mentransmisikan data-data yang masuk ke
para pelanggan, lebih banyak lebar pita frekuensi yang diberikan ke arus
downstream. Laju transmisi 8 Mbps dapat dicapai dengan memanfaatkan jaringan
telpon kabel berpasangan yang telah ada untuk jarak mencapai 3,6 km. Laju data
pada arus upstream biasanya mencapai 1 Mbps. Transmisi juga dapat dilakukan
untuk jarak yang lebih jauh dengan biaya yang sama dengan transmisi kecepatan
rendah. Kode jalur discrete multi tone (DMT) saat ini merupakan satu-satunya
standar teknologi ADSL. Kode ini berbasis pada standar ANSI T1.413.
ADSL melalui jalur
POTS dan ISDN
Konsep dasar dari ADSL adalah untuk membebani, mengirim
ataupun untuk menerima sinyal-sinyal digital pada jalur kabel tembaga pada pita
frekuensi yang berbeda dengan yang digunakan untuk pelayanan telpon. Hal ini
memungkinkan ADSL untuk ditransmisikan baik melalui jalur telpon reguler
(kadang disebut sebagai pelayanan telpon model kuno POTS) maupun melalui
pelayanan ISDN digital. Pita frekuensi, terbagi penggunaanya antara yang untuk
pelayanan telpon dengan yang untuk ADSL dengan menggunakan apa yang disebut
passive splitter (pemisah pasif). Untuk jalur-jalur POTS, modem-modem ADSL
mampu menyediakan akses data dan pelayanan suara telpon, bahkan pada kondisi
jika terjadi kegagalan daya.
Sampai sekarang, sejumlah sistem telah ada tetapi
ditinggalkan oleh para pengguna yang menginvestasikannya untuk teknologi ISDN
meskipun merupakan pilihan yang sulit. Apakah mereka harus meninggalkan
investasi yang telah ditanam atau melaju dengan perbaikan antara 50-100 kali
lipat dalam kecepatan transmisi yang dijanjikan oleh ADSL? ISDN mempunyai
karakteristik yang memungkinkan para penggunanya untuk tidak menyerah.
Perusahaan-perusahaan telekomunikasi telah berjuang keras untuk memperluas
penggunaan ISDN, dan disinilah menariknya memanfaatkan sistem yang telah ada.
Modem-modem ADSL yang dapat dimanfaatkan dengan jalur ISDN memungkinkan
perusahaan-perusahaan telekomunikasi dan para konsumen ISDN untuk melindungi
investasi yang dilakukan ketika mengadopsi ISDN. Selain itu juga masih
dimungkinkan untuk mengakses aplikasi-aplikasi multimedia dan internet dengan
kecepatan tinggi yang dimungkinkan.
Pengalokasian
Spektrum
Komunikasi suara tradisional dengan telpon hanya menggunakan
frekuensi sampai 4 Khz. ISDN menggunakan porsi spektrum sampai 70 kHz.
Frekuensi-frekuensi di atas angka ini, misalnya sampai 1,1 MHz, tersedia bagi
teknologi ADSL.
Nampaknya menjadi sederhana untuk mengkombinasikan ISDN dan
ADSL dalam 1 jalur. Sayangnya hal ini tidak bisa dilakukan dengan mudah karena
ADSL standar secara spesifik menggunakan spektrum dari 26 kHz sampai 1,1 MHz.
Dua masalah harus betul-betul diperhatikan jika ingin menggabung sinyal-sinyal
dari 2 sistem tersebut. Yang pertama, sejauh mana penurunan lebar pita yang
membatasi kinerjanya (sampai 70 kHz atau di atas 26 kHz?). Yang ke dua, ADSL
membutuhkan low end (spektrum akhir rendah) untuk membangkitkan sinyal-sinyal
start up yang berfungsi sebagai handshake untuk menegosiasi sambungan secara
rinci. Bahkan setelah 2 masalah tersebut terjawab, satu hal lagi harus
diperhatikan mengingat sinyal-sinyal ISDN (atau POTS) dan sinyal-sinyal ADSL
tidak saling menyatu begitu saja. Lalu bagaimana sinyal-sinyal ISDN dan ADSL
bisa dikombinasikan?
Mengkombinasikan sinyal-sinyal ISDN
dan ADSL
ISDN dan ADSL harus dikombinasikan dengan cara bahwa
sinyal-sinyal ISDN yang keluar seutuhnya ditransmisikan secara terpisah dengan
menggunakan frekuensi yang biasa (Gambar 1). Sinyal ADSL terlarang bagi pita
frekuensi yang lebih tinggi, sehingga tidak overlap dengan sinyal ISDN.
Sinyal-sinyal pilot dan start-up juga dapat dipindah ke frekuensi yang berbeda.
Gambar 1
Gambar 1. Pada keadaan darurat, menjaga sinyal telpon
seutuhnya
Keterbatasan teknis ini juga harus diatasi berkaitan dengan
sistem pelayanan kombinasi yang memanfaatkan lebar pita berbeda guna mencapai
hasil yang efektif dan andal. Disebabkan dekatnya daerah spektrum sinyal ISDN
dan ADSL pada metoda ini, mengakibatkan potensi terjadinya saling gangguan. Secara
konvensional, masalah seperti ini memiliki resiko tersendiri untuk ADSL nya.
Filter yang dirancang secara khusus dapat secara efektif menghilangkan gangguan
ini tanpa terjadi distorsi yang berarti antara masing-masing sinyal.
Mengubah pita frekuensi yang digunakan ADSL pada jaringan
ISDN yang telah ada bisa menimbulkan 2 resiko sbb:
Pertama, masalah cakap silang ujung dekat (NEXT, near-end
crosstalk) di kantor sentral telpon seperti diilustrasikan pada Gambar 2. Jika
perusahaan telpon memiliki pelanggan yang terdiri atas campuran acak antara
sistem ADSL-POTS dan ADSL-ISDN, dimungkinkan terjadi crosstalk yang cukup
berarti ketika sinyal-sinyal yang berbeda masuk ke lebar pita yang sama. Gambar
2 menunjukkan karakteristik filter dari splitter tertentu pada penggunaan
transmisi sinyal ADSL. Ingat bahwa splitter yang umum digunakan pada sistem
POTS-ASDL mentransmisikan semua sinyal-sinyal downstream ADSL (misalnya ke
pelanggan) pada frekuensi di atas 150 kHz. Karena meningkatnya ADSL ke
frekuensi yang lebih tinggi, upstream ISDN-ADSL mentransmisikan sinyal pada
frekuensi 170-250 kHz. Sehingga pada range ini crosstalk antara sinyal-sinyal
upstream dan downstream ADSL bisa menjadi masalah yang serius.
Gambar 2
Gambar 2. Di sini ditunjukkan daerah spektrum yang digunakan
oleh ADSL pada konfigurasi standar. Jika menggunakan POTS saja, atau ISDN saja,
tidak ada masalah karena sinyal-sinyal downstream dan upstream tidak saling
overlap. Tetapi jika diterima campuran acak sistem POTS-ADSL dan ISDN-ADSL,
akan terjadi crosstalk antara sinyal-sinyal POTS-down dan ISDN-up, karena
keduanya menggunakan pita frekuensi 150-200 kHz.
Kedua, karena splitter yang berbeda digunakan untuk POTS dan
ISDN, biaya untuk switching dari POTS-ADSL ke ISDN-ADSL jadi meningkat baik
yang harus ditanggung oleh operator maupun oleh pelanggan. Ini untuk pelanggan
yang telah memiliki ADSL dan ingin mengupgrade dari POTS ke ISDN. Prosedur yang
rumit pada saat memodifikasi atau merubah modem ADSL harus dihadapi baik oleh
operator maupun oleh pelanggan. Pelanggan harus membeli peralatan baru,
sementara operator harus melatih teknisinya untuk melakukan swap (pemindahan
sistem). Juga ada masalah psikologis pada saat frekuensi yang lebih luas
diberikan untuk ADSL dengan POTS daripada untuk ISDN, karena ADSL akan
memberikan kinerja lebih baik dengan POTS. Pengguna akan kecewa manakala
melakukan upgrade ke ISDN menghasilkan kinerja ADSL yang lebih buruk.
Sebuah splitter universal yang merupakan kombinasi splitter
ISDN dan POTS dapat mengeliminasi 2 resiko di atas. Splitter ini dapat
mengalokasikan lebar pita frekuensi yang lebih besar untuk sinyal POTS, dan
membawa daya cukup kuat untuk arus dan tegangan sinyal POTS, sehingga secara
efektif dapat mengeliminasi setiap distorsi dari sinyal suara. Splitter ini
akan mengurangi lebar pita dari sinyal ADSL (ketika dipakai bersama POTS),
tetapi pengurangannya terbatas hanya sampai sekitar 10%. Menggunakan splitter
universal dapat mengurangi timbulnya NEXT karena pemindahan sinyal POTS
downstream. Pendekatan ini menyederhanakan upgrade dari POTS ke ISDN, karena
modem ADSL tidak tergantung pada pilihan pelayanan. Keuntungan lain adalah
bahwa operator telekomunikasi menggunakan peralatan yang sama baik untuk
pengguna-pengguna ADSL-POTS maupun ADSL-ISDN. Hal ini akan menyederhanakan
perencanaan, pengadaan, maupun penginstalasian.
ADSL dan DAML
Di beberapa negara, teknologi yang sama dengan ISDN
digunakan untuk 2 pelayanan POTS melaluli loop kabel tembaga tunggal. Meskipun
di sini menggunakan sinyal yang melalui loop tembaga seperti pada ISDN, tetapi
ini bukanlah pelayanan ISDN. Bagi telephone exchange dan bagi pengguna akhir, ini
nampak seperti jaringan POTS. Peralatan yang seperti ini telah dipakai beberapa
tahun dan sering disebut multiplex dengan sistem added main line atau AML.
Belakangan, sejumlah vendor telah memperbaiki sistem ini dengan menggunakan
kode jalur ISDN standar untuk melakukan multiplexing dasar dan fungsi carrier
untuk AML. Karena ini merupakan sistem digital sehingga sering disebut digital
AML atau DAML. Menggunakan solusi yang sama seperti yang telah didiskusikan di
atas untuk ISDN, para pengguna dapat memperoleh pelayanan POTS melalui
fasilitas-fasilitas DAML (sistem DAML yang berbasis kode jalur ISDN). Saat ini
dapat memperoleh tambahan pelayanan komunikasi data kecepatan tinggi untuk
pemukiman atau kawasan bisnis dengan memanfaatkan ADSL.
Ujicoba dan penyebaran
Penggunaan global dari ADSL telah membuktikan
popularitasnya. Ujicoba dan penyebaran teknologi ADSL ini sedang dilangsungkan
di negara-negara Amerika Utara, Eropa, Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Asia.
Sebagian besar di antaranya adalah untuk akses internet dan multimedia seperti
video on demand, life video, dll. Beberapa diantaranya untuk aplikas-aplikasi
distance learning, telemedicine, dan entertaintment interaktif.
Keuntungan yang ditawarkan ADSL adalah biaya yang efektif untuk mengakses bagi pengguna internet atau multimedia. Fleksibilitas, biaya awal yang rendah, serta kemampuan untuk dikombinasikan dengan POTS, ISDN, dan DAML membuat ADSL menjadi pilihan yang menarik untuk kebanyakan jaringan. Para pengguna ISDN dapat melindungi investasinya, dapat memanfaatkan karakteristik khusus dari ISDN dan pada saat yang bersamaan dapat mengakses data kecepatan lebih tinggi dari 8 Mbps. Komunikasi data kecepatan tinggi dapat ditransmisikan dari pengguna ke kantor pusat pada kecepatan mendekati 1 Mbps dan bisa mencapai jarak 12000 feet dengan loop tembaga. Untuk sambungan korporasi bisnis, suara dan video conferencing ISDN menyajikan layanan yang andal serta sambungan yang kontinyu. Tingkat pelayanan seperti ini tidak ada pada dunia internet, dimana packet loss dan throughput changes kadang bisa terjadi secara dramatik dari 1 detik ke detik berikutnya.
Keuntungan seperti inilah yang bisa diperoleh internet dari
penggunaan ADSL. Teknologi-teknologi ADSL dan ISDN pada awalnya dikembangkan
untuk aplikasi-aplikasi yang saling berbeda. Kebutuhan untuk mengkombinasikan
kedua teknologi itu guna memperoleh data, suara dan pelayanan-pelayanan
internet ke pengguna-pengguna di pemukiman maupun kawasan bisnis akan sangat
mendesak manakala memasuki milenium baru.
DSL (Digital Subscriber Line)
Perkembangan internet yang sangat cepat sejak adanya World
Wide Web tidak saja membawa perubahan terhadap penyebaran informasi tetapi juga
membawa perubahan terhadap infrastruktur telekomunikasi. Tetapi kecepatan
pertambahan jumlah pengguna internet serta jumlah aliran data (informasi) lebih
cepat dibandingkan dengan perkembangan infrastruktur telekomunikasi. Untuk
mendapatkan kualitas yang lebih baik maka ditawarkanlah solusi dengan ISDN
(Integrated Service Digital Network).
Dengan teknologi digital kecepatan pengiriman data dapat
dilakukan sampai dengan 64kbps untuk setiap kanal, karena basic ISDN dapat
menyediakan dua kanal maka secara keseluruhan bisa didapatkan kecepatan akses
sampai 128kbps. Akan tetapi kendala utama dari teknologi ISDN ini adalah
diperlukannya jaringan telekomunikasi baru. Sehingga tidak semua orang dapat
menikmati keunggulan teknologi ini. Banyak ragam yang digunakan oleh operator
telekomunikasi untuk memberikan layanan broadband akses ke pelanggan. Dari sisi
media yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua yaitu teknologi wireline
(kabel) dan teknologi wireless (tanpa kabel). Dari kategori teknologi wireline
dapat digunakan teknologi DSL (Digital Subscriber Line), kabel modem, HFC
,maupun optik. Sedangkan dari kategori wireless dapat memanfaatkan teknologi
wireless LAN, BWA (Broadband Wireless Access) maupun teknologi terbaru WiMAX
(Worldwide Interoperability for Microwave Access).
Dengan berbagai solusi di atas, sebagian operator memanfaatkan teknologi DSL
(kabel) dan BWA (untuk wireless). Bagi operator telekomunikasi
yang incumbent di suatu negara, contoh TELKOM untuk Indonesia dimana
telah menggelar kabel sekitar 6 juta line maka akan memanfaatkan teknologi DSL
guna mengenhanced jaringan fisiknya untuk menyalurkan data kecepatan
tinggi ke pelanggan. Sedangkan bagi operator baru tentunya sangat sulit dan
mahal bila menggelar jaringan broadband dengan DSL. Kemudian muncul pemikiran
untuk tetap menggunakan infrastruktur yang ada guna membangun sambungan
kecepatan tinggi, ini didasari dengan mahalnya investasi baru dan besarnya
permintaan kebutuhan akan akses yang cepat. Salah satu solusinya adalah dengan
teknologi DSL (Digital Subscriber Line).
DSL ( Digital Subscriber Line )
1. Pengertian
DSL ( Digital Subscriber Line ) adalah satu set teknologi
yang menyediakan penghantar data digital melewati kabel yang digunakan dalam
jarak dekat dari jaringan telepon setempat. Biasanya kecepatan download dari
DSL berkisar dari 128 kbit/d sampai 24.000 kb/d tergantung dari teknologi DSL
tersebut.Kecepatan upload lebih rendah dari download untuk ADSL.
Di ujung pelanggan memerlukan sebuah modem DSL. Alat ini mengubah data dari
sinyal digital yang digunakan oleh computer menjadi sebuah sinyal volta sedalam
jangkauan frekuensi yang sessuai dan kemudian disalurkan kejalur telepon.
2. Teknologi DSL
Dilihat dari sisi teknis teknologi DSL menggunakan basis
data paket sementara komunikasi suara berbasis sambungan (circuit-switch).
Untuk komunikasi data yang berbasis sambungan , sambungan dengan lebar bandwith
tertentu harus tetap dipertahankan walaupun tidak ada data yang lewat. Untuk
komunikasi suara yang singkat waktu yang tidak terpakai tidak begitu
menimbulkan masalah, tetapi untuk komunikasi data yang lama akan memboroskan
sumber daya yang dimiliki oleh PSTN. Sementara komunikasi data yang berbasis
paket akan memungkinkan penggunaan bandwith yang optimum, karena bisa
dimanfaatkan untuk lebih dari satu sambungan secara efisien dan ekonomis.
3. Mekanisme
kerja DSL
DSL bekerja menggunakan kabel telepon standar yang terbuat
dari tembaga, saat ini kabel telepon jenis tersebut sudah banyak tersambung dan
tersedia luas ke rumah-rumah atau kantor-kantor. Teknologi DSL ini membawa
kedua sinyal analog serta digital pada satu kabel. Sinyal digital untuk
komunikasi data sementara sinyal analog untuk suara sperti halanya yang
digunakn telepon sekarang yang disebut sebagai POTS (Plain Old Telephone
System). Kemampuan untuk memisahkan sinyal suara dan data ini adalah merupakan
suatu keuntungan. DSL akan mengkoneksikan dan membawa sinyal digital untuk
komunikasi data dan bekerja dengan menggunakan modem khusus (disebut modem DSL)
untuk membaca (encode) data tersebut dan kemudian mengirimkannya melalui
frekuensi yang tidak terpakai pada kabel telepon tersebut. DSL memanfaatkan
frekwensi tinggi untuk mengirim data dan frekwensi rendah untuk menyalurkan
suara /faximili. DSL menjadi penting dan menjadi pilihan, pada saat pengguna
mulai mencari kecepatan akses untuk koneksi internet. Tanpa harus pusing dan
bosan menunggu bermenit-menit hanya untuk membuka satu halaman internet apalagi
dapat menikmati layanan multimedia melalui internet, seperti menyaksikan
layanan video, konferensi melalui video (kamera) atau layanan online lainnya
dan harganya bisa murah Jaringan PSTN (Public Switch Telephone Network) yang
ada dirancang untuk komunikasi suara yang hanya berlngsung sebentar sekitar
tiga sampai lima menit.
Karena hal ini maka sambungan yang sama bisa digunakan secara bergantian
sehingga tidak diperlukan penyedian sambungan telepon yang sama banyak
dengan jumlah saluran teleponnya. Tetapi untuk komunikasi data umumnya
para pelanggan menggunakan waktu yang lebih lama, terutama dengan adanya
intrenet, maka akibatnya tingkat keberhasilan penyambungan mengalami penurunan
karena sebagian besar saluran telepon terpakai dalam jangka waktu yang lama.
Perkembangan lalu lintas data yang sangat cepat ini akan membebani jaringan
telepon publik (PSTN) yang ada. Ada dua pilihan yang bisa diambil penyelenggara
jasa telekomunikasi untuk mengatasi hal ini yang pertama adalah meningkatkan
jaringan PSTN untuk menangani permintaan komunikaais data dan suara yang
bertambah dan yang kedua memindahkan lalu litas data ke jaringan yang terpisah
yang dirancang khusus untuk komunikasi data. Dilihat dari sisi teknis teknologi
DSL menggunakan basis data paket sementara komunikasi suara berbasis sambungan
(circuit-switch).
Untuk komunikasi data yang berbasis sambungan , sambungan
dengan lebar bandwith tertentu harus tetap dipertahankan walaupun tidak ada
data yang lewat. Untuk komunikasi suara yang singkat waktu yang tidak terpakai
tidak begitu menimbulkan masalah, tetapi untuk komunikasi data yang lama akan
memboroskan sumber daya yang dimiliki oleh PSTN. Sementara komunikasi data yang
berbasis paket akan memungkinkan penggunaan bandwith yang optimum, karena bisa
dimanfaatkan untuk lebih dari satu sambungan secar efisien dan ekonomis. Yang
juga merupakan kelebihan lain dari teknologi DSL adalah pengguanan kabel
tembaga yang sudah ada dimana jaringannya sudah mencapai kantor-kantor dan
rumah-rumah sehingga pembangunan infrastruktur yang diperlukan menjadi
tidak terlalu mahal. Tetapi penggunaan kabel yang sudah ada ini harus
memperhatikan beberapa hal yang berhubungan dengan sinyal data. Seperti
atenuasi, crosstalk, dan derau (noise). Atenuasi adalah melemahnya sinyal yang
diakibatkan oleh adanya jarak yang semakin jauh yang harus ditempuh oleh suatu
sinyal dan juga oleh karena makin tingginya frekuensi sinyal tersebut. Karena
faktor jarak dan frekuensi ini maka jarak terjauh yang masih mungkin adalah
sekitar 5,5 km dengan bandwith sekitar 1 MHz. Crosstalk akan mungkin dtimbulkan
oleh adanya pasangan kabel telepon yang digunakan.
Gangguan ini bisa timbul karena sinyal dengan kecepatan yang sama dari
masing-masing kabel bisa saling mempengaruhi, bila gangguan ini lebih tinggi
dibandingkan dengan sinyal data maka akna timbul banyak error yang memperlambat
kecepatan aliran data. Untuk menghindari efek crosstalk dapat dibuat untuk
setiap kabel satu arah, sehingga sinyal pada masing-masing kabel tidak saling
memepengaruhi.
4. Jenis-jenis
DSL
Terdapat beberapa jenis teknologi DSL berdasarkan perbedaan
kecepatan data dan jarak maksimum yang disebabkan usaha untuk meningkatkan
kecepatan pengiriman data dengan menggunakan jaringan telepon yang ada. Jenis
DSL yang digunakan tergantung dari kebutuhan pelanggan serta layanan yang dapat
disediakan di daerahnya :
1. IDSL (ISDN Digital Subscriber Line)
Teknologi yang berbasis pada teknologi ISDN BRI (Basic Rate
Interface). IDSL menawarkan layanan seperti BRI dengan kecepatan kirim (uplink)
dan terima (downlink) yang sama sebesar 144 kbps, tetapi dengan perangkat yang
lebih murah. IDSL hanya menawarkan layanan komunikasi data tidak untuk
komunikasi suara pada jalur yang sama.
2. SDSL (Symmetric Digital Subscriber Line)
Teknologi ini menggunakan kecepatan data 784 kbps, baik
untuk kirim (uplink) atau terima (downlink). Seperti halnya IDSL, SDSL hanya
menawarkan komunikaais data saja. SDSL merupakan solusi yang cocok untuk
kalangan bisnis untuk digunakan sebagai komunikasi antar cabang atau hubungan
situs web ke internet. SDSL sangat cocok digunakan untuk mengakses internet
kecepatan tinggi untuk perumahan karena memberikan kecepatan atau lebar pita
sampai 2.3 Mbps dan diberikan secara simetris, dengan jarak maksimum sampai 2.4
Km. Sangat cocok untuk akses LAN jarak jauh (remote LAN), layanan VOD (Video On
Demand), residential video converencing dan lain-lain.
3. ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line)
Teknologi ini mempunyai kecepatan data yang berbeda untuk
kirim (uplink) dan terima (downlink).Teknologi ADSL cocok digunakan untuk
mengakses internet dan menjadi pilihan pengguna. Untuk uplink bisa mencapai 8
Mbps sementara untuk downlink bisa mencapai 1 Mbps dengan jarak kabel maksimum
samapi dengan 5,5 km. Sasaran teknologi ini adalah terutama pelanggan pribadi
yang lebih banyak menerima data daripada mengirim data, sebagai contoh adalah
untuk mengakses internet.
4. VDSL (Very high-bit-rete Digital Subscriber Line)
Teknologi VDSL bersifat asimetrik. Rentang operasinya
terbatas pada 1.000 sampai 4.500 kaki (304 meter-1,37 Km), tetapi ia dapat
menangani lebar pita rata-rata 13Mbps sampai 52 Mbps untuk downstream dan 1,5
Mbps sampai 2,3 Mbps untuk upstream-nya melalui sepasang kawat tembaga pilin.
Lebar pita yang tersisa memungkinkan perusahaan telekomunikasi memberikan
program layanan HDTV(high-definition television) dengan menggunakan teknologi
VDSL. Teknologi ini dapat pula mengirimkan data dengan kecepatan 1,6 Mbps dan
menerima data dengan kecepatan 25 Mbps dengan jarak maksimum sampai 900 meter.
Karena kecepatannya yang tinggi maka teknologi imi memerlukan kabel serat optik
yang kemampuannya lebih tinggi daripada memakai kabel tembaga yang ada.
5. HDSL (High data rate Digital Subscriber Line)
HDSL sangat cocok digunakan untuk gedung-gedung perkantoran
atau kompleks perkantoran, karena memberikan kecepatan atau lebar data sampai
10 Mbps dan dapat dibagi-bagi kepada seluruh pengguna akhir. Infrastruktur yang
dibutuhkan untuk koneksi HDSL ini dapat menggunakan jalur PBX yang dimiliki
gedung, tanpa harus menginvestasi pembangunan jaringan komputer. Jarak maksimum
cukup panjang mencapai 1 Km. HDSL memakai dua pasang twisted cable yang akan
membawa data dengan kecepatan 1,544Mbps upstream (dari pelanggan ke jaringan)
dan downstream (dari jaringan ke pelanggan). Selain itu teknologi HDSL juga
juga menggunakan tiga pasang twisted cable dengan kecepatan 2,048Mbps dengan
data rate hingga12kaki.
6. RDSL (Rate Adaptive Digital Subscriber Line)
RDSL merupakan salah satu teknologi DSL, dimana teknologi
ini dapat bekerja pada data rate yang berbeda tergantung pada panjang kabel dan
jaraknya.
5. Kelebihan
dan Kekurangan DSL
·
Kelebihan DSL :
DSL memberikan banyak keuntungan. Karena memakai jaringan
tembaga yang telah tersedia berarti tidak perlu memasang prasarana lagi
sehingga DSL menjadi lebih murah. Selain itu DSL adalah layanan langsung yang
selalu terhubung dengan ISP dan tidak membayar per menit.
Adapun keuntungan dari DSL adalah:
- Koneksi
yang simultan antara internet dengan suara/fax melalui kabel telepon
- Kecepatan
akses yang tinggi dan selalu online
- Harga
penggunaan murah terutama untuk perumahan
- Keamanan
data terjaga baik
DSL dapat memenuhi kebutuhan akan transmisi data dengan
kecepatan tinggi serta ragam layanan tapi pengadaan dan pemeliharaan layanan
DSL tidak selalu mudah. Masalah yang ada antara lain keterbatasan jarak
jangkauan, pelayanan serta dukungan teknis purna jual yang kurang baik untuk
pelanggan. Yang juga merupakan kelebihan lain dari teknologi DSL adalah
penggunan kabel tembaga yang sudah ada dimana jaringannya sudah mencapai
kantor-kantor dan rumah-rumah sehingga pembangunan infrastruktur yang diperlukan
menjadi tidak terlalu mahal
·
Kekurangan DSL :
Terdapat tiga hambatan yang dihadapi saat ini yaitu panjang
kabel telepon tembaga ke pelanggan, adanya load coils dan bridged taps, serat
optik yang digunakan untuk beberapa jalur telepon.
Ketiga hambatan tersebut adalah :
- Panjang
kabel tembaga dari CO ke pelanggan. Contoh : jika panjang kabel tembaga
lebih dari 18.500 feet maka layanan signal to noise ratio terlalu rendah
dan penguatan sinyal menjadi terlalu besar untuk dapat dibawa ADSL pada
kecepatan yang sewajarnya. Jika pelanggan berada dalam 18.500 feet itu pun
belum tentu menjamin layanan yang baik dan memuaskan karena belum termasuk
cabang-cabang kabel tembaga ke berbagai pelanggan.
- Adanya
load coils dan bridged taps. Local Exchange Carriers (LEC s) menggunakan
load coil untuk memberikan layanan telepon di daerah-daerah yang
memerlukan peralatan tambahan atau instalasi loop tembaga. Load coil
adalah peralatan induksi yang menggeser frekwensi pembawa suara ke atas.
Ini adalah kompensasi untuk kapasitansi kabel khususnya untuk jangkauan
lebih dari 18.000 feet. Sayangnya, frekwensi suara tergeser ke frekwensi
yang biasa digunakan untuk DSL sehingga mengakibatkan interferensi yang
tidak dapat ditolerir. Sehingga metoda ini membuat jalur tersebut tidak cocok
untuk ADSL. Bridged tap adalah bagian kabel yang tidak berada pada jalur
yang langsung dari pelanggan ke CO. Bridged tap ini memudahkan LEC untuk
menyediakan loop tembaga tanpa membuat jalur yang baru sepanjang jarak
pelanggan ke CO. Bila jumlahnya sedikit masih memungkinkan jalur tersebut
menggunakan DSL. Namun gema dan noise tambahan yang ditimbulkan karena
adanya bridged tap dapat membuat DSL tidak dapat dipertahankan. Beberapa
LEC memindahkan peralatan-peralatan ini tapi akan perlu waktu yang cukup
lama untuk membersihkan seluruh jalur.
- Hambatan
ketiga adalah serat optik. DSL adalah layanan digital yang dibuat untuk
dibawa dengan saluran analog, yaitu kabel tembaga. Oleh karena itu sinyal
tidak dapat dikirim melalui media yang menggunakan transmisi digital
seperti serat optik. Biasanya serat optik digunakan untuk Digital Loop
Carrier (DLC) atau Subscriber Loop Carrier (SLC). Daerah yang menggunakan
serat optik ini tidak dapat dilayani DSL. Untuk mengatasi masalah ini,
perusahaan telepon menguji serta memakai sebuah alat yang disebut
mini-Remote Access Multiplexers (mini-RAMs) yang akan memfasilitasi
layanan DSL bagi pelanggan di belakang DLC serta dapat menyediakan delapan
saluran dengan layanan DLS. Tapi alat ini juga memiliki keterbatasan
jangkauan karena panjang kabel tembaga bukan diukur dari pelanggan ke
CO tapi dari mini-RAM ke pelanggan. Selain itu, belum diketahui
dengan pasti di mana dan kapan mini-RAMs harus dipasang.
6. Implementasi
DSL
Kerangka Kerja DSL yang Didasarkan Pada Sistem Terdistribus
Mengamankan sistem distribusi data akan menjadi tantangan
signifikan karena beberapa alasan. Pertama, fitur keamanan diperlukan dalam
aplikasi mungkin bergantung pada lingkungan pemerintah dimana aplikasi sedang
beroperasi, jenis pertukaran data, dan kemampuan titik akhir dari
komunikasi. Kedua, mekanisme keamanan dikerahkan bisa berlaku untuk kedua
pengguna jasa komunikasi dan aplikasi dalam sistem, sehingga sulit untuk
memahami dan mengelola keseluruhan sistem keamanan. Makalah ini memaparkan
komponen-komponen, aplikasi dan pengguna yang menggunakan DSL dengan pendekatan
berbasis kebijakan. Kami mengusulkan kerangka kerja berbasis bahasa
domain-khusus untuk verifikasi, spesifikasi dan implementasi kebijakan keamanan
sistem terdistribusi. Berdasarkan set abstraksi, kerangka ini memungkinkan
untuk mengembangkan kebijakan keamanan modular dan independen dari sistem yang
mendasar. Dengan demikian, keamanan kebijakan yang dapat dikembangkan oleh
seorang pengembang yang awam terhadap sistem keamanan komputer sekalipun.
Berbagai aplikasi komputer transfer data telah tumbuh dalam
beberapa tahun terakhir. Contohnya termasuk aplikasi teleconferencing, aplikasi
pesan, peer-to-peer file dan systems transfer. Banyak aplikasi ini
saat ini digunakan tanpa jaminan keamanan apapun, sebagian karena menggabungkan
keamanan di dalamnya adalah sulit dan tantangan yang besar bagi baik pengembang
dan juga pengguna-akhir sistem. Beberapa masalah yang termasuk dalam keamanan
meliputi:
Banyaknya cakupan kebutuhan Persyaratan keamanan yang mesti
dipenuhi : ukuran keamanan tidak sesuai untuk semua kasus dari aplikasi.
Sebagai contoh, dalam distribusi sumber (pengembang) aplikasi, ukuran keamanan
yang diperlukan mungkin tergantung pada sifat ressource (misalnya,
publik atau rahasia), lingkungan operasi (misalnya, pariwisata jaringan atau
jaringan publik), kemampuan dan kebijakan pengguna, dan lain-lain. Konfigurasi
keamanan benar tidak memiliki biaya potensial: sistem dapat menjadi tidak
tersedia untuk beberapa pengguna, mungkin menjadi lebih sulit untuk menggunakan
atau mengakses, atau mungkin melakukan kesalahan.
Menggabungkan Keamanan Persyaratan menjadi sulit, karena.
Bahkan setelah yang sesuai ukuran keamanan dapat ditentukan untuk sebuah contoh
aplikasi, menggabungkan ke aplikasi dapat menjadi tidak gampang untuk
pengembang. Permasalah yang sering di jumpai ketika proses layering: Hal ini
biasanya tidak cukup untuk menerapkan keamanan di satu lapisan dalam sistem.
Dengan demikian, mekanisme keamanan akan berjalan ketika sistem melakukan proses
layering, sehingga sulit untuk memahami dan mengelola keamanan sistem secara
keseluruhan.
Kebijakan keamanan berbasis telah memberikan solusi untuk
mengatasi masalah ketika sistem keamanan terbagi. Dalam sistem keamanan ini,
dapat disesuaikan untuk memenuhi persyaratan keamanan yang berbeda-beda yang
tidak berpengaruh terhadap aplikasi. Kebijakan telah digunakan dalam konteks
yang berbeda, seperti otorisasi dan kontrol akses [2], [14], rekan keamanan
sesi [13], kualitas layanan dan jaminan konfigurasi jaringan [4]. Namun,
tantangan dalam pendekatan adalah untuk menemukan kerangka kerja yang cocok
untuk memenuhi spesifikasi, verifikasi dan implementasi. Dalam makalah ini kami
mengusulkan pendekatan baru untuk spesifikasi, verifikasi dan pelaksanaan
kebijakan keamanan. Pendekatan kami adalah untuk menerapkan teknologi domain
bahasa spesifik dalam keamanan kebijakan untuk memecahkan masalah yang
tercantum di domain ini. Berdasarkan pada analisis domain seksama, kami telah
merancang kita kerangka kerja, yang terdiri dari dukungan untuk verifikasi dan
pelaksanaan kebijakan dan bahasa domain yang spesifik.
Sisa dari makalah ini diorganisasikan sebagai berikut.
Bagian berikut menyajikan persyaratan kebijakan framework. Bagian III membahas
fitur yang diharapkan dari kerangka kebijakan. Bagian IV menjelaskan desain
kerangka kami. Bagian V memperkenalkan bahasa pemrograman PPLPolicy, dengan
fokus pada bahasa utama abstraksi. Bagian VI menyajikan kerja terkait, dan
Bagian VII concludes dan membahas prospek di masa depan.
- Metode
dan bahan
DSL yang didasarkan pada sistem terdistribusi ialah satu set
teknologi yang menyediakan penghantar data digital melewati kabel yang
digunakan dalam jarak dekat dari jaringan telepon setempat.
Biasanya kecepatan downolad dari DSL berkisar dari 128 kbit/d sampai 24.000
kb/d tergantung dari teknologi DSL tersebut. Kecepatan upload lebih rendah dari
download untuk ADSL dan
sama cepat untuk SDSL. Banyak teknologi DSL
menggunakan sebuah lapisan Asynchronous Transfer Mode atau Mode Transfer
Asinkron (disingkat ATM) adalah nama sebuah jaringan khusus.
ATM merupakan sebuah teknologi lapisan 2, yang dapat digunakan oleh siapa
saja, namun sekaligus merupakan sebuah jaringan publik sebagaimana halnya Internet,
dengan sistem pengalamatan
yang dikelola secara rapi, sehingga setiap perangkat di dalam jaringan dapat
memiliki sebuah identitas yang unik, agar dapat beradaptasi dengan sejumlah
teknologi yang berbeda.
Implementasi DSL dapat menciptakan jaringan jembatan atau routed. Dalam
konfigurasi jembatan, kelompok komputer pengguna terhubungkan ke subnet
tunggal. Implementasi awal menggunakan DHCP untuk
menyediakan detail jaringan seperti alamat IP kepada
peralatan pengguna, dengan authentication melalui alamat MAC atau
memberikan nama host. Kemudian implementasi seringkali menggunakan PPP melaluiEthernet atau
ATM (PPPoE atau PPPoA).
DSL juga memiliki rasio contention yang
layak dipertimbangkan pada saat memilih teknologi jalur lebar. Di ujung
pelanggan memerlukan sebuah modem DSL. Alat ini mengubah data dari sinyal digital yang
digunakan oleh komputer menjadi sebuah sinyal voltase dalam
jangkauan frekuensi yang sessuai dan kemudian disalurkan ke jalur telepon.
- Hasil
Mengusulkan kerangka kerja untuk spesifikasi, verifikasi dan
pelaksanaan kebijakan keamanan. Kerangka ini memungkinkan untuk menulis
kebijakan keamanan modular dan independen dari sistem yang mendasar, yang
bedasarkan dari abstraksi. Dengan demikian, kebijakan keamanan dapat
diimplementasikan oleh pengembang yang awam dengan sistem keamanan komputer.
Kami mulai dengan membahas unsur-unsur yang diperlukan untuk aspek kunci.
Dari menyebarkan Model pemerintah adalah distribusi otomatis
kebijakan PPL untuk komponen aplikasi mereka. PPL Kebijakan Keamanan
menentukan secara eksplisit subyek dan obyek (target) yang memungkinkan
distribusi otomatis kebijakan tanpa kebutuhan untuk secara manual mengatur
alokasi kebijakan implementasi komponen.
- Diskusi
dan Rekomendasi
Sebuah program PPL pada dasarnya mendefinisikan daftar blok.
Blok deklarasi menjelaskan mana subyek (misalnya pengguna atau proses) yang
dapat akses oleh objek (misalnya file atau perangkat perangkat) dan di mana
keadaannya. Blok dapat menjadi suatu kebijakan, aturan, tindakan atau entitas,
sebuah lingkup. Lingkup merupakan daftar entitas yang terlibat dalam kebijakan.
Kebijakan sesuai dengan aturan urutan untuk menentukan spe-pengaturan
konfigurasi yang spesifik untuk beberapa proteksi sistem; mereka dapat baik
sederhana atau senyawa. Sebuah kebijakan sederhana mengacu pada daftar tindakan
perlindungan diterapkan di beberapa bahasa pemrograman lain. Fasilitas ini
memungkinkan ada tindakan perpustakaan untuk digunakan ulang. Kebijakan senyawa
didefinisikan sebagai komposisi kebijakan sederhana. Peraturan terdiri dari
serangkaian kendala pada seperangkat tindakan, mereka dapat berupa
pemicu-tunggal di mana hanya satu tindakan dipicu untuk diberikan objek, atau
amulti-memicu mana ganda berbeda tindakan mungkin dipicu untuk objek yang sama.
Aksi bisa menjadi atom atau senyawa Berikut ini kami hadir di rincian
masing-masing blok dasar yang terdiri dari PPL dan menunjukkan bagaimana mereka
digunakan dalam penulisan kebijakan keamanan PPL. Kerangka kami untuk
spesifikasi, verifikasi dan Implementasi kebijakan keamanan, yang disebut
PPL PolicyProgramming Language, berkisar sekitar dua sumbu utama.
Sebuah dukungan extensible penyebaran untuk integrasi dan implementasi kebijakan keamanan dan Spesifikasi mudah DSL memungkinkan kebijakan keamanan dengan tingkat idiom abstraksi dalam keamanan domain. Akibatnya, ahli domain dapat menggunakannya untuk memahami, untuk memvalidasi, memodifikasi, dan seringkali mengembangkan kebijakan keamanan.
Referensi:
https://www.elektroindonesia.com/elektro/utama15a
http://asrimellia.blogspot.com/2012/05/dsl-digital-subscriber-line.



