Kamis, 01 April 2021

Materi TJBL (WAN) Ke 8 dan 9 Kelas XI TKJ "Mengevaluasi permasalahan jaringan nirkabel"


JARINGAN NIRKABEL 

A.   Sejarah Perkembangan Jaringan Nirkabel

Istilah Nirkabel adalah sebuah perangkat yang berfungsi sebagai media transmisi yang tidak berupa kabel . dan bentuk-bentuk nirkabel dapat berupa gelombang elektromagnetik, laser dan infra merah.

Jaringan nirkabel adalah sekumpulan perangkat komputer / client / host yang saling terhubung antara satu dengan yang lainnya dengan menggunakan media transmisi tanpa kabel. Jaringan nirkabel ini sering dipakai untuk jaringan komputer baik pada jarak yang dekat (beberapa meter, memakai alat/pemancar bluetooth) maupun pada jarak jauh (lewat satelit). Bidang ini erat hubungannya dengan bidang telekomunikasi, teknologi informasi, dan teknik komputer. Jenis jaringan yang populer dalam kategori jaringan nirkabel ini meliputi: Jaringan kawasan lokal nirkabel (wireless LAN/WLAN), dan Wi-Fi.

Pada tahun 1970 Norman Abramson, seorang profesor di University of Hawaii, mengembangkan komputer pertama di dunia jaringan komunikasi, ALOHAnet, menggunakan biaya rendah seperti ham-radio. Dengan bi-directional topologi bintang, sistem komputer yang terhubung tujuh ditempatkan lebih dari empat pulau untuk berkomunikasi dengan komputer pusat di Pulau Oahu tanpa menggunakan saluran telepon.

"Pada tahun 1979, FR Gfeller dan U. Bapst menerbitkan makalah di Proceedings IEEE pelaporan percobaan jaringan area lokal nirkabel menggunakan komunikasi infra merah disebarkan. Tak lama kemudian, pada tahun 1980, P. Ferrert melaporkan percobaan penerapan kode satu radio spread spectrum untuk komunikasi di terminal nirkabel IEEE Konferensi Telekomunikasi Nasional. Pada tahun 1984, perbandingan antara infra merah dan CDMA spread spectrum untuk komunikasi jaringan informasi kantor nirkabel diterbitkan oleh IEEE Kaveh Pahlavan di Jaringan Komputer Simposium yang muncul kemudian dalam IEEE Communication Society Magazine. Pada bulan Mei 1985, upaya Marcus memimpin FCC untuk mengumumkan ISM band eksperimental untuk aplikasi komersial teknologi spread spectrum. Belakangan, M. Kavehrad melaporkan percobaan sistem PBX nirkabel kode menggunakan Division Multiple Access. Upaya-upaya ini mendorong kegiatan industri yang signifikan dalam pengembangan dari generasi baru dari jaringan area lokal nirkabel dan diperbarui beberapa lama diskusi di radio portabel dan mobile industri.

Generasi pertama dari modem data nirkabel dikembangkan pada awal 1980-an oleh operator radio amatir, yang sering disebut sebagai radio paket ini. Mereka menambahkan komunikasi data pita suara modem, dengan kecepatan data di bawah 9.600-bit / s, untuk yang sudah ada sistem radio jarak pendek, biasanya dalam dua meter band amatir. Generasi kedua modem nirkabel dikembangkan FCC segera setelah pengumuman di band eksperimental untuk non-militer penggunaan spektrum penyebaran teknologi. Modem ini memiliki kecepatan data yang diberikan atas perintah ratusan kbit / s. Generasi ketiga modem nirkabel ditujukan untuk kompatibilitas dengan LAN yang ada dengan data tingkat atas perintah Mbit / s. Beberapa perusahaan yang mengembangkan produk-produk generasi ketiga dengan kecepatan data di atas 1 Mbit / s dan beberapa produk sudah diumumkan oleh waktu pertama IEEE Workshop on Wireless LAN.

Adapun jaringan nirkabel dalam bidang sensor atau biasa disebut Jaringan Sensor Nirkabel (Wireless Sensor Network/WSN). Jaringan sensor nirkabel adalah jaringan perangkat nirkabel yang saling berhubungan yang tertanam dalam lingkungan fisik untuk mengukur kondisi lingkungan seperti suhu, suara, tingkat polusi, kelembapan, angin, dan sebagainya.

B.   Konsep Daser Jaringan Nirkabel

Konsep dasar nirkabel  akan membahas berbagai bidang  yaitu meliputi 

1. Jenis-jenis Jaringan Nirkabel berdasarkan letak goegrafisnya

Berdasarkan letak geografisnya maka jaringan Nirkabel dapat dibagi menjadi beberapa bentuk yaitu WLAN, WWAN, WPAN, WMAN dll

2. Topologi Jaringan Nirkabel

Beberapa macam topologi yang umumnya sering diterapkan dalam WLAN(Wireless LAN). Pada dasarnya ada dua macam, yaitu topologi jaringan wireless ad-hoc dan topologi infrastruktur yang menggunakan access point.

3. Frekuensi dan Channel

Dalam implementasi WLAN, penggunaan frekuensi dan channel merupakan bahagian yang harus di perhatikan. 

4. Standarisasi Jaringan Wireless

Untuk membangun jaringan nirkabel secara optimal , perlu diperlajari tentang standarisasi dari peralatan yang akan digunakan berdasarkan  keadaan lapangan dan keadaan penggunaan.

5. Gangguan-gangguan atau pelemahan sinyal

Dalam jaringan nirkabel terdapat beberapa gangguan sinyal yang ada. 

6. Peralatan/Aksesoris Jaringan Wireless

Beberapa peralatan dan aksesoris yang sering digunakan dalam implementasi jaringan wireless.

7. Pemilihan Mode Access Point

Access point adalah sebuah alat yang paling umum dan sering digunakan dalam implementasi jaringan wireless, terutama sebagai station dalam jaringan.

8. Sistem Keamanan untuk Jaringan Wireless

Perkembangan teknologi saat ini memperngaruhi dalam  sistem keamanan jaringan nirkabel, untu itu perlu diketahi tenatng bagaimana implementasi jaringan wireless yang aman, mulai dari enkripsi jaringan wireless, sistem deteksi(WIDS), sistem pencegahan serangan (WIPS).

9. Ancaman-ancaman keamanan jaringan wireless

Bila system keamanan jaringan nirkabel tidak diperhatikan maka akan banyak ancaman yang ada. 

10. Antenna Jaringan

Antena jaringan sangat baik untuk memperkuat atau memperlebar suatu jaringan wireless, hal ini akan tergantung dari karakter antenna jaringan yang digunakan. 

C. Jenis - jenis Jaringan Nirkabel Berdasarkan Geografisnya

Jaringan nirkabel dapat dikelompokkan ke dalam bermacam-macam jenis jaringan,yaitu WPAN (wireless personal area network), WLAN (wireless local area network), WMAN (wireless metropolitan area network),dan WWAN (wireless wide area network).

1.    Wireless Personal Area Network (WPAN)

Teknologi WPAN memungkinkan pemakai untuk membangun komunikasi nirkabel secara dadakan (mode ad hoc). Perangkat-perangkat seperti PDA,telepon seluler, atau laptop yang berada dalam ruang kegiatan sipemakai dapat dihubungkan secara nirkabel.Wilayah yang dijangkau oleh WPAN dapat mencapai 10 meter.

WPAN yang saat ini terkenal adalah bluetooth dan cahaya inframerah. Bluetooth merupakan teknologi pengganti kabel yang memanfaatkan gelombang radio untuk mentransmisikan data.Data bluetooth dapat ditranfer menembus dinding, dompet, dan koper.

Teknologi bluetooth dikembangkan oleh Special Interest Group (SIG).Pada tahun 1999 kelompok ini telah meluncurkan spesifikasi Bluetooth versi 1.0 jangkauan komunikasi teknologi ini dapat mencapai radius 30 kaki (sekitar 10 meter). Sementara itu, jika perangkat-perangkat yang hendak dihubungkan relatif sangat dekat yaitu kurang dari atau sama dengan 1 meter, para pemakai dapat pula memakai sinar inframerah. Untuk menstandardisasi pengembangan teknologi WPAN, IEEE telah membuat kelompok kerja 802.15. Kelompok ini kerja mengembangkan standar WPAN berdasarkan spesifikasi Bluetooth versi 1.0. Tujuan utama standardisasi ini garis besarnya adalah untuk menekan kompleksitas dan konsumsi daya serta mendukung interoperabilitas dan koeksistensi dengan jaringan 802.11. 

2.    Wireless Local Area Network (WLAN)

WLAN (Wireless Local Area Network) memungkinkan para pemakai untuk membangun koneksi didalam lingkungannya sendiri (misalnya,dalam satu bangunan perusahaan atau gedung kampus,atau di ruang publik seperti bandara).

WLAN juga cocok dipakai di kantor-kantor yang bersifat sementara tidak memungkinkan para penggunanya memasang kabel-kabel tambahan. WLAN juga dapat diterapkan sebagai pelengkap untuk LAN yang sudah ada.Bagi para pengguna yang bekerja sebagai karyawan, mereka dapat melakukan tugasnya dari lokasi yang berbeda setiap saat ketika mereka masih berada dilingkungan kantor.

WLAN dapat bekerja dengan dua cara yang berbeda.Dalam infrastruktur WLAN, stasiun-stasiun nirkabel (perangkat yang dilenkapi dengan kartu jaringan radio atau modem eksternal) tersambung ke titik akses nirkabel (wireless access point). Titik-titik akses nirkabel itu berfungsi sebagai jembatan (bridge) antara stasiun dan tulang punggung jaringan (network backbone) yang ada.

Dalam WLAN peer-to-peer yang dibangun menurut keperluan (mode ad hoc), beberapa pengguna dalam suatu ruang terbatas,seperti ruang konferensi, dapat membentuk jaringan sementara tanpa menggunakan titik akses jika para pengguna tersebut tidak perlu akses kesumber daya jaringan. 

3.    Wireless Metropolitan Area Networks (WMAN)

WMAN (Wireless Metropolitan Area Network) memungkinkan para pemakai membangun koneksi nirkabel diantara sejumlah lokasi dalam suatu daerah metropolitan (misalnya di antara sejumlah gedung perkantoran yang berada dalam satu kota atau pada kampus universitas). Keunggulan teknologi WMAN adalah pengguna tidak perlu mengeluarkan anggara untuk pengabelan.

WMAN dapat pula ditambahkan pada jaringan berkabel yang sudah ada.Dalam hal ini WMAN dapat dipakai sebagai cadangan bila suatu saat jaringan berkabel mengalami gangguan.Untuk mentransmisikan data, WMAN dapat memakai gelombang radio ataupun cahaya inframerah. Saat ini permintaan terhadap jaringan akses secara nirkabel pita lebar (broadband) semakin meningkat. 

Meskipun sudah ada bermacam-macam teknologi,seperti MMDS (multichannel multipoint distribution service) dan LMDS (local nultipoint ditribution services),kelompok kerja IEEE 802.16 untuk standar akses nirkabel broadband masih mengembangkan spesifikasi untuk menstdardisai pengembangan teknologi ini. 

4.    Wireless Wide Area Network (WWAN)

Teknologi WWAN (wireless wide area network) memungkinkan para pemakai untuk membangun koneksi nirkabel terhadap jaringan pribadi atau jaringan publik dari jarak jauh. Koneksi tersebut dapat berlangsung secara luas ,seperti antar kota atau negara .Biasanya para penyedia layanan nirkabel memanfaatkan sejumlah antena yang ditempatkan di beberapa tempat serta memakai pula sistem satelit.

penggunaan teknologi WWAN yang sudah diterapkan di Indonesia sampai saat sudah pada4G dan selanjutnya tidak lama lagi akan mengarah ke jaringan yang lebih baru yaitu jaringan 5G.


 D. Topologi Jaringa Wireless

Salah satu dasar jaringan wireless yang akan mempengaruhi kinerja jaringan wireless adalah topologi jaringan wireless . Bentuk topologi jaringa wire ada dua yaitu topologi ad-hoc dan topologi infrastruktur.

1.    Topologi Ad-Hoc

Topologi ad-hoc adalah topologi  menghubungkan jaringan wireless secara langsung antara end-user ke end-user lainnya tanpa perangkat penghubung lainnya. Contohnya jaringan antara computer dengan computer lainnya dengan mengginakan media trasnsmisi wireless  Interface yang digunakan adalah wireless card, atau usb wireless atau perangkat jaringan untuk end-user lainnya.

Implementasi topologi ad-hoc ini sangat bermanfaat sangat mudah.karena tidak  banyak melakukan konfigurasi, hanya membuat jaringan adhoc sebagai station di salah satu komputer, lalu melakukan konfigurasi ip address.

  • Kekurangan dan Kelebihan Topologi Ad-hoc

Kekurangan dari topologi ad-hoc sebagai berikut :

a)    Tidak cocok  untuk digunakan pada jaringan yang mempunyai banyak komputer.

b)    Kecepatan transmisi akan terbatas pada standar kecepatan wireless card yang terlemah didalam jaringan.

c)    Digunakan hanya untuk jarak dekat.

d)    Keterbatasan keamanan jaringan wireless yang dapat digunakan.

e)    Sinyal mudah terganggu.

Kelebihan   Topologi Ad-hoc sebagai berikut:

a)    Dapat di bangun jaringan ad-hoc dimana saja 

b)    Konfigurasi jaringan yang mudah .

c)    Praktis

d)    Tidak menggunakan perangakat tambahan seperti access-point sehingga mengehemat uang.

  •            Topologi Infrastruktur

Topologi Infrastruktur  adalah topologi  menghubungkan jaringan wireless antara suatu end user  ke end user  lainnya dengan menggunakan perangkat jaringan tambahan  access point.


Jumat, 26 Februari 2021

Materi TLJ ke 5 dan ke 6 Kelas XII TKJ "Memahami Prinsip Kerja Subscriber Internet Telepon"

Memahami Prinsip Kerja Subscriber Internet Telepon 

Kebutuhan akan kecepatan yang lebih tinggi

Perlu dicatat bahwa meskipun telah terjadi perbaikan yang sangat luar biasa sejak sekitar 15 tahun yang lalu (kecepatan transmisi meningkat hampir 1000 kali lipat), tetapi tingkat kecepatan ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan saat ini. Masih dibutuhkan kecepatan transmisi data sekitar 20 kali lipat lebih baik dibanding kecepatan saat ini. Kecenderungan di masa depan, Internet akan memerlukan lebih banyak lebar pita guna menyajikan pelayanan-pelayanan multimedia yang lebih kompleks.

Kecepatan tinggi bisa dicapai jika digunakan lebar pita yang lebih besar seperti pemakaian fiber optik dan kabel koaxial. Meskipun begitu, sambungan-sambungan kecepatan tinggi ini secara normal hanya ada diantara pusat-pusat komunikasi, tidak bisa dicapai untuk komunikasi individual antar rumah atau perkantoran biasa.

Fiber optik di sepanjang jalan (FTTC, fibre to the curb) masih belum tersebar cukup luas di hampir semua wilayah di dunia dan tak seorangpun yakin manakala fiber optik ke rumah-rumah (FTTH, fibre to the home) akan segera menjadi kenyataan. Pengadaan infrastrukturnya masih membutuhkan biaya modal yang besar yang harus ditanggung perusahaan telekomunikasi, mengakibatkan sistem ini kurang menarik dan bukan merupakan solusi yang praktis untuk masalah saat ini.

Modem-modem kabel juga berkompetisi untuk lebar pita yang lebih luas. Meskipun sistem jaringan kabel multimedia (MCNS, multimedia cable network system) belakangan meluncurkan standar industri yang memungkinkan mempercepat skala penyebarannya, modem kabel juga mempunyai sejumlah kekurangan. Kebanyakan jaringan kabel hanya menawarkan pelayanan satu arah dan biaya untuk mengupgradenya cukup mahal. Juga modem-modem kabel memakai jalur yang sama dengan yang dipakai pelanggan lain sehingga meningkatnya pemakai akan sangat memperburuk kualitas komunikasi.

Sebagian besar jaringan-jaringan telpon pelanggan di dunia dilakukan berbasis pada sepasang kabel tembaga. Mengganti infrastruktur yang sudah ada, akan cukup berat dan mahal. Sehingga peningkatan komunikasi kecepatan tinggi difokuskan pada teknik-teknik yang masih bisa memanfaatkan jaringan-jaringan telpon tembaga yang sudah ada.

Metoda ADSL

Salah satu teknologi kecepatan tinggi yang saat ini paling banyak didiskusikan dan banyak mendapat dukungan adalah digital subscriber line (DSL). Teknologi DSL ini menyajikan transmisi data dalam range kecepatan mencapai skala mega bit per detik dengan memanfaatkan jaringan telpon yang sudah ada. Kecepatan tinggi dapat dicapai dengan membagi jalur telpon ke dalam lebar pita 4 kHz. Ganggunan noise pada jalur, secara dinamik ditentukan oleh jumlah bit per pita frekuensi dan jumlah pita yang dapat digunakan. Sebagai contoh jika terjadi noise pada range frekuensi tertentu, pita pada range tersebut jadi tidak tersedia dan data akan disistribusikan menggunakan pita-pita frekuensi yang lain. Sebagai tambahan, dalam penyediaan komunikasi kecepatan tinggi, DSL akan mem-bypass switch sehingga akan mengurangi kemacetan di kantor sentral telpon. Ini akan memperpendek masa tunggu bagi pengguna telpon untuk memutar nomor telpon yang dituju karena terjadinya kelebihan beban pada switch.

Meskipun banyak jenis teknologi DSL, ADSL adalah salah satu jenis DSL yang lebih bagus untuk aplikasi-aplikasi multimedia dan internet. Sementara server atau kantor sentral mentransmisikan data-data yang masuk ke para pelanggan, lebih banyak lebar pita frekuensi yang diberikan ke arus downstream. Laju transmisi 8 Mbps dapat dicapai dengan memanfaatkan jaringan telpon kabel berpasangan yang telah ada untuk jarak mencapai 3,6 km. Laju data pada arus upstream biasanya mencapai 1 Mbps. Transmisi juga dapat dilakukan untuk jarak yang lebih jauh dengan biaya yang sama dengan transmisi kecepatan rendah. Kode jalur discrete multi tone (DMT) saat ini merupakan satu-satunya standar teknologi ADSL. Kode ini berbasis pada standar ANSI T1.413.

ADSL melalui jalur POTS dan ISDN

Konsep dasar dari ADSL adalah untuk membebani, mengirim ataupun untuk menerima sinyal-sinyal digital pada jalur kabel tembaga pada pita frekuensi yang berbeda dengan yang digunakan untuk pelayanan telpon. Hal ini memungkinkan ADSL untuk ditransmisikan baik melalui jalur telpon reguler (kadang disebut sebagai pelayanan telpon model kuno POTS) maupun melalui pelayanan ISDN digital. Pita frekuensi, terbagi penggunaanya antara yang untuk pelayanan telpon dengan yang untuk ADSL dengan menggunakan apa yang disebut passive splitter (pemisah pasif). Untuk jalur-jalur POTS, modem-modem ADSL mampu menyediakan akses data dan pelayanan suara telpon, bahkan pada kondisi jika terjadi kegagalan daya.

Sampai sekarang, sejumlah sistem telah ada tetapi ditinggalkan oleh para pengguna yang menginvestasikannya untuk teknologi ISDN meskipun merupakan pilihan yang sulit. Apakah mereka harus meninggalkan investasi yang telah ditanam atau melaju dengan perbaikan antara 50-100 kali lipat dalam kecepatan transmisi yang dijanjikan oleh ADSL? ISDN mempunyai karakteristik yang memungkinkan para penggunanya untuk tidak menyerah. Perusahaan-perusahaan telekomunikasi telah berjuang keras untuk memperluas penggunaan ISDN, dan disinilah menariknya memanfaatkan sistem yang telah ada. Modem-modem ADSL yang dapat dimanfaatkan dengan jalur ISDN memungkinkan perusahaan-perusahaan telekomunikasi dan para konsumen ISDN untuk melindungi investasi yang dilakukan ketika mengadopsi ISDN. Selain itu juga masih dimungkinkan untuk mengakses aplikasi-aplikasi multimedia dan internet dengan kecepatan tinggi yang dimungkinkan.

 

Pengalokasian Spektrum

Komunikasi suara tradisional dengan telpon hanya menggunakan frekuensi sampai 4 Khz. ISDN menggunakan porsi spektrum sampai 70 kHz. Frekuensi-frekuensi di atas angka ini, misalnya sampai 1,1 MHz, tersedia bagi teknologi ADSL.

Nampaknya menjadi sederhana untuk mengkombinasikan ISDN dan ADSL dalam 1 jalur. Sayangnya hal ini tidak bisa dilakukan dengan mudah karena ADSL standar secara spesifik menggunakan spektrum dari 26 kHz sampai 1,1 MHz. Dua masalah harus betul-betul diperhatikan jika ingin menggabung sinyal-sinyal dari 2 sistem tersebut. Yang pertama, sejauh mana penurunan lebar pita yang membatasi kinerjanya (sampai 70 kHz atau di atas 26 kHz?). Yang ke dua, ADSL membutuhkan low end (spektrum akhir rendah) untuk membangkitkan sinyal-sinyal start up yang berfungsi sebagai handshake untuk menegosiasi sambungan secara rinci. Bahkan setelah 2 masalah tersebut terjawab, satu hal lagi harus diperhatikan mengingat sinyal-sinyal ISDN (atau POTS) dan sinyal-sinyal ADSL tidak saling menyatu begitu saja. Lalu bagaimana sinyal-sinyal ISDN dan ADSL bisa dikombinasikan?

Mengkombinasikan sinyal-sinyal ISDN dan ADSL

ISDN dan ADSL harus dikombinasikan dengan cara bahwa sinyal-sinyal ISDN yang keluar seutuhnya ditransmisikan secara terpisah dengan menggunakan frekuensi yang biasa (Gambar 1). Sinyal ADSL terlarang bagi pita frekuensi yang lebih tinggi, sehingga tidak overlap dengan sinyal ISDN. Sinyal-sinyal pilot dan start-up juga dapat dipindah ke frekuensi yang berbeda.

Gambar 1

Gambar 1. Pada keadaan darurat, menjaga sinyal telpon seutuhnya

Keterbatasan teknis ini juga harus diatasi berkaitan dengan sistem pelayanan kombinasi yang memanfaatkan lebar pita berbeda guna mencapai hasil yang efektif dan andal. Disebabkan dekatnya daerah spektrum sinyal ISDN dan ADSL pada metoda ini, mengakibatkan potensi terjadinya saling gangguan. Secara konvensional, masalah seperti ini memiliki resiko tersendiri untuk ADSL nya. Filter yang dirancang secara khusus dapat secara efektif menghilangkan gangguan ini tanpa terjadi distorsi yang berarti antara masing-masing sinyal.

Mengubah pita frekuensi yang digunakan ADSL pada jaringan ISDN yang telah ada bisa menimbulkan 2 resiko sbb:

Pertama, masalah cakap silang ujung dekat (NEXT, near-end crosstalk) di kantor sentral telpon seperti diilustrasikan pada Gambar 2. Jika perusahaan telpon memiliki pelanggan yang terdiri atas campuran acak antara sistem ADSL-POTS dan ADSL-ISDN, dimungkinkan terjadi crosstalk yang cukup berarti ketika sinyal-sinyal yang berbeda masuk ke lebar pita yang sama. Gambar 2 menunjukkan karakteristik filter dari splitter tertentu pada penggunaan transmisi sinyal ADSL. Ingat bahwa splitter yang umum digunakan pada sistem POTS-ASDL mentransmisikan semua sinyal-sinyal downstream ADSL (misalnya ke pelanggan) pada frekuensi di atas 150 kHz. Karena meningkatnya ADSL ke frekuensi yang lebih tinggi, upstream ISDN-ADSL mentransmisikan sinyal pada frekuensi 170-250 kHz. Sehingga pada range ini crosstalk antara sinyal-sinyal upstream dan downstream ADSL bisa menjadi masalah yang serius.

Gambar 2

 


Gambar 2. Di sini ditunjukkan daerah spektrum yang digunakan oleh ADSL pada konfigurasi standar. Jika menggunakan POTS saja, atau ISDN saja, tidak ada masalah karena sinyal-sinyal downstream dan upstream tidak saling overlap. Tetapi jika diterima campuran acak sistem POTS-ADSL dan ISDN-ADSL, akan terjadi crosstalk antara sinyal-sinyal POTS-down dan ISDN-up, karena keduanya menggunakan pita frekuensi 150-200 kHz.

Kedua, karena splitter yang berbeda digunakan untuk POTS dan ISDN, biaya untuk switching dari POTS-ADSL ke ISDN-ADSL jadi meningkat baik yang harus ditanggung oleh operator maupun oleh pelanggan. Ini untuk pelanggan yang telah memiliki ADSL dan ingin mengupgrade dari POTS ke ISDN. Prosedur yang rumit pada saat memodifikasi atau merubah modem ADSL harus dihadapi baik oleh operator maupun oleh pelanggan. Pelanggan harus membeli peralatan baru, sementara operator harus melatih teknisinya untuk melakukan swap (pemindahan sistem). Juga ada masalah psikologis pada saat frekuensi yang lebih luas diberikan untuk ADSL dengan POTS daripada untuk ISDN, karena ADSL akan memberikan kinerja lebih baik dengan POTS. Pengguna akan kecewa manakala melakukan upgrade ke ISDN menghasilkan kinerja ADSL yang lebih buruk.

Sebuah splitter universal yang merupakan kombinasi splitter ISDN dan POTS dapat mengeliminasi 2 resiko di atas. Splitter ini dapat mengalokasikan lebar pita frekuensi yang lebih besar untuk sinyal POTS, dan membawa daya cukup kuat untuk arus dan tegangan sinyal POTS, sehingga secara efektif dapat mengeliminasi setiap distorsi dari sinyal suara. Splitter ini akan mengurangi lebar pita dari sinyal ADSL (ketika dipakai bersama POTS), tetapi pengurangannya terbatas hanya sampai sekitar 10%. Menggunakan splitter universal dapat mengurangi timbulnya NEXT karena pemindahan sinyal POTS downstream. Pendekatan ini menyederhanakan upgrade dari POTS ke ISDN, karena modem ADSL tidak tergantung pada pilihan pelayanan. Keuntungan lain adalah bahwa operator telekomunikasi menggunakan peralatan yang sama baik untuk pengguna-pengguna ADSL-POTS maupun ADSL-ISDN. Hal ini akan menyederhanakan perencanaan, pengadaan, maupun penginstalasian.

ADSL dan DAML

Di beberapa negara, teknologi yang sama dengan ISDN digunakan untuk 2 pelayanan POTS melaluli loop kabel tembaga tunggal. Meskipun di sini menggunakan sinyal yang melalui loop tembaga seperti pada ISDN, tetapi ini bukanlah pelayanan ISDN. Bagi telephone exchange dan bagi pengguna akhir, ini nampak seperti jaringan POTS. Peralatan yang seperti ini telah dipakai beberapa tahun dan sering disebut multiplex dengan sistem added main line atau AML. Belakangan, sejumlah vendor telah memperbaiki sistem ini dengan menggunakan kode jalur ISDN standar untuk melakukan multiplexing dasar dan fungsi carrier untuk AML. Karena ini merupakan sistem digital sehingga sering disebut digital AML atau DAML. Menggunakan solusi yang sama seperti yang telah didiskusikan di atas untuk ISDN, para pengguna dapat memperoleh pelayanan POTS melalui fasilitas-fasilitas DAML (sistem DAML yang berbasis kode jalur ISDN). Saat ini dapat memperoleh tambahan pelayanan komunikasi data kecepatan tinggi untuk pemukiman atau kawasan bisnis dengan memanfaatkan ADSL.

Ujicoba dan penyebaran

Penggunaan global dari ADSL telah membuktikan popularitasnya. Ujicoba dan penyebaran teknologi ADSL ini sedang dilangsungkan di negara-negara Amerika Utara, Eropa, Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Asia. Sebagian besar di antaranya adalah untuk akses internet dan multimedia seperti video on demand, life video, dll. Beberapa diantaranya untuk aplikas-aplikasi distance learning, telemedicine, dan entertaintment interaktif.

Keuntungan yang ditawarkan ADSL adalah biaya yang efektif untuk mengakses bagi pengguna internet atau multimedia. Fleksibilitas, biaya awal yang rendah, serta kemampuan untuk dikombinasikan dengan POTS, ISDN, dan DAML membuat ADSL menjadi pilihan yang menarik untuk kebanyakan jaringan. Para pengguna ISDN dapat melindungi investasinya, dapat memanfaatkan karakteristik khusus dari ISDN dan pada saat yang bersamaan dapat mengakses data kecepatan lebih tinggi dari 8 Mbps. Komunikasi data kecepatan tinggi dapat ditransmisikan dari pengguna ke kantor pusat pada kecepatan mendekati 1 Mbps dan bisa mencapai jarak 12000 feet dengan loop tembaga. Untuk sambungan korporasi bisnis, suara dan video conferencing ISDN menyajikan layanan yang andal serta sambungan yang kontinyu. Tingkat pelayanan seperti ini tidak ada pada dunia internet, dimana packet loss dan throughput changes kadang bisa terjadi secara dramatik dari 1 detik ke detik berikutnya.

Keuntungan seperti inilah yang bisa diperoleh internet dari penggunaan ADSL. Teknologi-teknologi ADSL dan ISDN pada awalnya dikembangkan untuk aplikasi-aplikasi yang saling berbeda. Kebutuhan untuk mengkombinasikan kedua teknologi itu guna memperoleh data, suara dan pelayanan-pelayanan internet ke pengguna-pengguna di pemukiman maupun kawasan bisnis akan sangat mendesak manakala memasuki milenium baru. 

 

DSL (Digital Subscriber Line)

Perkembangan internet yang sangat cepat sejak adanya World Wide Web tidak saja membawa perubahan terhadap penyebaran informasi tetapi juga membawa perubahan terhadap infrastruktur telekomunikasi. Tetapi kecepatan pertambahan jumlah pengguna internet serta jumlah aliran data (informasi) lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan infrastruktur telekomunikasi. Untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik maka ditawarkanlah solusi dengan ISDN (Integrated Service Digital Network).
Dengan teknologi digital kecepatan pengiriman data dapat dilakukan sampai dengan 64kbps untuk setiap kanal, karena basic ISDN dapat menyediakan dua kanal maka secara keseluruhan bisa didapatkan kecepatan akses sampai 128kbps. Akan tetapi kendala utama dari teknologi ISDN ini adalah diperlukannya jaringan telekomunikasi baru. Sehingga tidak semua orang dapat menikmati keunggulan teknologi ini. Banyak ragam yang digunakan oleh operator telekomunikasi untuk memberikan layanan broadband akses ke pelanggan. Dari sisi media yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua yaitu teknologi wireline (kabel) dan teknologi wireless (tanpa kabel). Dari kategori teknologi wireline dapat digunakan teknologi DSL (Digital Subscriber Line), kabel modem, HFC ,maupun optik. Sedangkan dari kategori wireless dapat memanfaatkan teknologi wireless LAN, BWA (Broadband Wireless Access) maupun teknologi terbaru WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access).
Dengan berbagai solusi di atas, sebagian operator memanfaatkan teknologi DSL (kabel) dan BWA (untuk wireless). Bagi operator telekomunikasi yang incumbent di suatu negara, contoh TELKOM untuk Indonesia dimana telah menggelar kabel sekitar 6 juta line maka akan memanfaatkan teknologi DSL guna mengenhanced jaringan fisiknya untuk menyalurkan data kecepatan tinggi ke pelanggan. Sedangkan bagi operator baru tentunya sangat sulit dan mahal bila menggelar jaringan broadband dengan DSL. Kemudian muncul pemikiran untuk tetap menggunakan infrastruktur yang ada guna membangun sambungan kecepatan tinggi, ini didasari dengan mahalnya investasi baru dan besarnya permintaan kebutuhan akan akses yang cepat. Salah satu solusinya adalah dengan teknologi DSL (Digital Subscriber Line).

DSL ( Digital Subscriber Line )

1.      Pengertian

DSL ( Digital Subscriber Line ) adalah satu set teknologi yang menyediakan penghantar data digital melewati kabel yang digunakan dalam jarak dekat dari jaringan telepon setempat. Biasanya kecepatan download dari DSL berkisar dari 128 kbit/d sampai 24.000 kb/d tergantung dari teknologi DSL tersebut.Kecepatan upload lebih rendah dari download untuk ADSL.
Di ujung pelanggan memerlukan sebuah modem DSL. Alat ini mengubah data dari sinyal digital yang digunakan oleh computer menjadi sebuah sinyal volta sedalam jangkauan frekuensi yang sessuai dan kemudian disalurkan kejalur telepon.

2.      Teknologi DSL

Dilihat dari sisi teknis teknologi DSL menggunakan basis data paket sementara komunikasi suara berbasis sambungan (circuit-switch). Untuk komunikasi data yang berbasis sambungan , sambungan dengan lebar bandwith tertentu harus tetap dipertahankan walaupun tidak ada data yang lewat. Untuk komunikasi suara yang singkat waktu yang tidak terpakai tidak begitu menimbulkan masalah, tetapi untuk komunikasi data yang lama akan memboroskan sumber daya yang dimiliki oleh PSTN. Sementara komunikasi data yang berbasis paket akan memungkinkan penggunaan bandwith yang optimum, karena bisa dimanfaatkan untuk lebih dari satu sambungan secara efisien dan ekonomis.

3.      Mekanisme kerja DSL

DSL bekerja menggunakan kabel telepon standar yang terbuat dari tembaga, saat ini kabel telepon jenis tersebut sudah banyak tersambung dan tersedia luas ke rumah-rumah atau kantor-kantor. Teknologi DSL ini membawa kedua sinyal analog serta digital pada satu kabel. Sinyal digital untuk komunikasi data sementara sinyal analog untuk suara sperti halanya yang digunakn telepon sekarang yang disebut sebagai POTS (Plain Old Telephone System). Kemampuan untuk memisahkan sinyal suara dan data ini adalah merupakan suatu keuntungan. DSL akan mengkoneksikan dan membawa sinyal digital untuk komunikasi data dan bekerja dengan menggunakan modem khusus (disebut modem DSL) untuk membaca (encode) data tersebut dan kemudian mengirimkannya melalui frekuensi yang tidak terpakai pada kabel telepon tersebut. DSL memanfaatkan frekwensi tinggi untuk mengirim data dan frekwensi rendah untuk menyalurkan suara /faximili. DSL menjadi penting dan menjadi pilihan, pada saat pengguna mulai mencari kecepatan akses untuk koneksi internet. Tanpa harus pusing dan bosan menunggu bermenit-menit hanya untuk membuka satu halaman internet apalagi dapat menikmati layanan multimedia melalui internet, seperti menyaksikan layanan video, konferensi melalui video (kamera) atau layanan online lainnya dan harganya bisa murah Jaringan PSTN (Public Switch Telephone Network) yang ada dirancang untuk komunikasi suara yang hanya berlngsung sebentar sekitar tiga sampai lima menit.


Karena hal ini maka sambungan yang sama bisa digunakan secara bergantian sehingga tidak diperlukan penyedian sambungan telepon yang sama banyak dengan  jumlah saluran teleponnya. Tetapi untuk komunikasi data umumnya para pelanggan menggunakan waktu yang lebih lama, terutama dengan adanya intrenet, maka akibatnya tingkat keberhasilan penyambungan mengalami penurunan karena sebagian besar saluran telepon terpakai dalam jangka waktu yang lama.
Perkembangan lalu lintas data yang sangat cepat ini akan membebani jaringan telepon publik (PSTN) yang ada. Ada dua pilihan yang bisa diambil penyelenggara jasa telekomunikasi untuk mengatasi hal ini yang pertama adalah meningkatkan jaringan PSTN untuk menangani permintaan komunikaais data dan suara yang bertambah dan yang kedua memindahkan lalu litas data ke jaringan yang terpisah yang dirancang khusus untuk komunikasi data. Dilihat dari sisi teknis teknologi DSL menggunakan basis data paket sementara komunikasi suara berbasis sambungan (circuit-switch).

Untuk komunikasi data yang berbasis sambungan , sambungan dengan lebar bandwith tertentu harus tetap dipertahankan walaupun tidak ada data yang lewat. Untuk komunikasi suara yang singkat waktu yang tidak terpakai tidak begitu menimbulkan masalah, tetapi untuk komunikasi data yang lama akan memboroskan sumber daya yang dimiliki oleh PSTN. Sementara komunikasi data yang berbasis paket akan memungkinkan penggunaan bandwith yang optimum, karena bisa dimanfaatkan untuk lebih dari satu sambungan secar efisien dan ekonomis. Yang juga merupakan kelebihan lain dari teknologi DSL adalah pengguanan kabel tembaga yang sudah ada dimana jaringannya sudah mencapai kantor-kantor dan rumah-rumah sehingga pembangunan infrastruktur yang diperlukan  menjadi tidak terlalu mahal. Tetapi penggunaan kabel yang sudah ada ini harus memperhatikan beberapa hal yang berhubungan dengan sinyal data. Seperti atenuasi, crosstalk, dan derau (noise). Atenuasi adalah melemahnya sinyal yang diakibatkan oleh adanya jarak yang semakin jauh yang harus ditempuh oleh suatu sinyal dan juga oleh karena makin tingginya frekuensi sinyal tersebut. Karena faktor jarak dan frekuensi ini maka jarak terjauh yang masih mungkin adalah sekitar 5,5 km dengan bandwith sekitar 1 MHz. Crosstalk akan mungkin dtimbulkan oleh adanya pasangan kabel telepon yang digunakan.
Gangguan ini bisa timbul karena sinyal dengan kecepatan yang sama dari masing-masing kabel bisa saling mempengaruhi, bila gangguan ini lebih tinggi dibandingkan dengan sinyal data maka akna timbul banyak error yang memperlambat kecepatan aliran data. Untuk menghindari efek crosstalk dapat dibuat untuk setiap kabel satu arah, sehingga sinyal pada masing-masing kabel tidak saling memepengaruhi.

 

4.      Jenis-jenis DSL

Terdapat beberapa jenis teknologi DSL berdasarkan perbedaan kecepatan data dan jarak maksimum yang disebabkan usaha untuk meningkatkan kecepatan pengiriman data dengan menggunakan jaringan telepon yang ada. Jenis DSL yang digunakan tergantung dari kebutuhan pelanggan serta layanan yang dapat disediakan di daerahnya :

1. IDSL (ISDN Digital Subscriber Line)

Teknologi yang berbasis pada teknologi ISDN BRI (Basic Rate Interface). IDSL menawarkan layanan seperti BRI dengan kecepatan kirim (uplink) dan terima (downlink) yang sama sebesar 144 kbps, tetapi dengan perangkat yang lebih murah. IDSL hanya menawarkan layanan komunikasi data tidak untuk komunikasi suara pada jalur yang sama.

2. SDSL (Symmetric Digital Subscriber Line)

Teknologi ini menggunakan kecepatan data 784 kbps, baik untuk kirim (uplink) atau terima (downlink). Seperti halnya IDSL, SDSL hanya menawarkan komunikaais data saja. SDSL merupakan solusi yang cocok untuk kalangan bisnis untuk digunakan sebagai komunikasi antar cabang atau hubungan situs web ke internet. SDSL sangat cocok digunakan untuk mengakses internet kecepatan tinggi untuk perumahan karena memberikan kecepatan atau lebar pita sampai 2.3 Mbps dan diberikan secara simetris, dengan jarak maksimum sampai 2.4 Km. Sangat cocok untuk akses LAN jarak jauh (remote LAN), layanan VOD (Video On Demand), residential video converencing dan lain-lain.

3. ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line)

Teknologi ini mempunyai kecepatan data yang berbeda untuk kirim (uplink) dan terima (downlink).Teknologi ADSL cocok digunakan untuk mengakses internet dan menjadi pilihan pengguna. Untuk uplink bisa mencapai 8 Mbps sementara untuk downlink bisa mencapai 1 Mbps dengan jarak kabel maksimum samapi dengan 5,5 km. Sasaran teknologi ini adalah terutama pelanggan pribadi yang lebih banyak menerima data daripada mengirim data, sebagai contoh adalah untuk mengakses internet.

4. VDSL (Very high-bit-rete Digital Subscriber Line)

Teknologi VDSL bersifat asimetrik. Rentang operasinya terbatas pada 1.000 sampai 4.500 kaki (304 meter-1,37 Km), tetapi ia dapat menangani lebar pita rata-rata 13Mbps sampai 52 Mbps untuk downstream dan 1,5 Mbps sampai 2,3 Mbps untuk upstream-nya melalui sepasang kawat tembaga pilin. Lebar pita yang tersisa memungkinkan perusahaan telekomunikasi memberikan program layanan HDTV(high-definition television) dengan menggunakan teknologi VDSL. Teknologi ini dapat pula mengirimkan data dengan kecepatan 1,6 Mbps dan menerima data dengan kecepatan 25 Mbps dengan jarak maksimum sampai 900 meter. Karena kecepatannya yang tinggi maka teknologi imi memerlukan kabel serat optik yang kemampuannya lebih tinggi daripada memakai kabel tembaga yang ada.

5. HDSL (High data rate Digital Subscriber Line)

HDSL sangat cocok digunakan untuk gedung-gedung perkantoran atau kompleks perkantoran, karena memberikan kecepatan atau lebar data sampai 10 Mbps dan dapat dibagi-bagi kepada seluruh pengguna akhir. Infrastruktur yang dibutuhkan untuk koneksi HDSL ini dapat menggunakan jalur PBX yang dimiliki gedung, tanpa harus menginvestasi pembangunan jaringan komputer. Jarak maksimum cukup panjang mencapai 1 Km. HDSL memakai dua pasang twisted cable yang akan membawa data dengan kecepatan 1,544Mbps upstream (dari pelanggan ke jaringan) dan downstream (dari jaringan ke pelanggan). Selain itu teknologi HDSL juga juga menggunakan tiga pasang twisted cable dengan kecepatan 2,048Mbps dengan data rate hingga12kaki.

6. RDSL (Rate Adaptive Digital Subscriber Line)

RDSL merupakan salah satu teknologi DSL, dimana teknologi ini dapat bekerja pada data rate yang berbeda tergantung pada panjang kabel dan jaraknya.

 

5.      Kelebihan dan Kekurangan DSL

·         Kelebihan DSL :

DSL memberikan banyak keuntungan. Karena memakai jaringan tembaga yang telah tersedia berarti tidak perlu memasang prasarana lagi sehingga DSL menjadi lebih murah. Selain itu DSL adalah layanan langsung yang selalu terhubung dengan ISP dan tidak membayar per menit.

Adapun keuntungan dari DSL adalah:

  1. Koneksi yang simultan antara internet dengan suara/fax melalui kabel telepon
  2. Kecepatan akses yang tinggi dan selalu online
  3. Harga penggunaan murah terutama untuk perumahan
  4. Keamanan data terjaga baik

DSL dapat memenuhi kebutuhan akan transmisi data dengan kecepatan tinggi serta ragam layanan tapi pengadaan dan pemeliharaan layanan DSL tidak selalu mudah. Masalah yang ada antara lain keterbatasan jarak jangkauan, pelayanan serta dukungan teknis purna jual yang kurang baik untuk pelanggan. Yang juga merupakan kelebihan lain dari teknologi DSL adalah penggunan kabel tembaga yang sudah ada dimana jaringannya sudah mencapai kantor-kantor dan rumah-rumah sehingga pembangunan infrastruktur yang diperlukan  menjadi tidak terlalu mahal

·         Kekurangan DSL :

Terdapat tiga hambatan yang dihadapi saat ini yaitu panjang kabel telepon tembaga ke pelanggan, adanya load coils dan bridged taps, serat optik yang digunakan untuk beberapa jalur telepon.
Ketiga hambatan tersebut adalah :

  1. Panjang kabel tembaga dari CO ke pelanggan. Contoh : jika panjang kabel tembaga lebih dari 18.500 feet maka layanan signal to noise ratio terlalu rendah dan penguatan sinyal menjadi terlalu besar untuk dapat dibawa ADSL pada kecepatan yang sewajarnya. Jika pelanggan berada dalam 18.500 feet itu pun belum tentu menjamin layanan yang baik dan memuaskan karena belum termasuk cabang-cabang kabel tembaga ke berbagai pelanggan.
  2. Adanya load coils dan bridged taps. Local Exchange Carriers (LEC s) menggunakan load coil untuk memberikan layanan telepon di daerah-daerah yang memerlukan peralatan tambahan atau instalasi loop tembaga. Load coil adalah peralatan induksi yang menggeser frekwensi pembawa suara ke atas. Ini adalah kompensasi untuk kapasitansi kabel khususnya untuk jangkauan lebih dari 18.000 feet. Sayangnya, frekwensi suara tergeser ke frekwensi yang biasa digunakan untuk DSL sehingga mengakibatkan interferensi yang tidak dapat ditolerir. Sehingga metoda ini membuat jalur tersebut tidak cocok untuk ADSL. Bridged tap adalah bagian kabel yang tidak berada pada jalur yang langsung dari pelanggan ke CO. Bridged tap ini memudahkan LEC untuk menyediakan loop tembaga tanpa membuat jalur yang baru sepanjang jarak pelanggan ke CO. Bila jumlahnya sedikit masih memungkinkan jalur tersebut menggunakan DSL. Namun gema dan noise tambahan yang ditimbulkan karena adanya bridged tap dapat membuat DSL tidak dapat dipertahankan. Beberapa LEC memindahkan peralatan-peralatan ini tapi akan perlu waktu yang cukup lama untuk membersihkan seluruh jalur.
  3. Hambatan ketiga adalah serat optik. DSL adalah layanan digital yang dibuat untuk dibawa dengan saluran analog, yaitu kabel tembaga. Oleh karena itu sinyal tidak dapat dikirim melalui media yang menggunakan transmisi digital seperti serat optik. Biasanya serat optik digunakan untuk Digital Loop Carrier (DLC) atau Subscriber Loop Carrier (SLC). Daerah yang menggunakan serat optik ini tidak dapat dilayani DSL. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan telepon menguji serta memakai sebuah alat yang disebut mini-Remote Access Multiplexers (mini-RAMs) yang akan memfasilitasi layanan DSL bagi pelanggan di belakang DLC serta dapat menyediakan delapan saluran dengan layanan DLS. Tapi alat ini juga memiliki keterbatasan jangkauan karena panjang kabel tembaga bukan diukur dari pelanggan ke CO  tapi dari mini-RAM ke pelanggan. Selain itu, belum diketahui dengan pasti di mana dan kapan mini-RAMs harus dipasang.

 

6.      Implementasi DSL

Kerangka Kerja DSL yang Didasarkan Pada Sistem Terdistribus

Mengamankan sistem distribusi data akan menjadi tantangan signifikan karena beberapa alasan. Pertama, fitur keamanan diperlukan dalam aplikasi mungkin bergantung pada lingkungan pemerintah dimana aplikasi sedang beroperasi,  jenis pertukaran data, dan kemampuan titik akhir dari komunikasi. Kedua, mekanisme keamanan dikerahkan bisa berlaku untuk kedua pengguna jasa komunikasi dan aplikasi dalam sistem, sehingga sulit untuk memahami dan mengelola keseluruhan sistem keamanan. Makalah ini memaparkan komponen-komponen, aplikasi dan pengguna yang menggunakan DSL dengan pendekatan berbasis kebijakan. Kami mengusulkan kerangka kerja berbasis bahasa domain-khusus untuk verifikasi, spesifikasi dan implementasi kebijakan keamanan sistem terdistribusi. Berdasarkan set abstraksi, kerangka ini memungkinkan untuk mengembangkan kebijakan keamanan modular dan independen dari sistem yang mendasar. Dengan demikian, keamanan kebijakan yang dapat dikembangkan oleh seorang pengembang yang awam terhadap sistem keamanan komputer sekalipun.

Berbagai aplikasi komputer transfer data telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya termasuk aplikasi teleconferencing, aplikasi pesan, peer-to-peer file dan systems transfer. Banyak aplikasi ini saat ini digunakan tanpa jaminan keamanan apapun, sebagian karena menggabungkan keamanan di dalamnya adalah sulit dan tantangan yang besar bagi baik pengembang dan juga pengguna-akhir sistem. Beberapa masalah yang termasuk dalam keamanan meliputi:

Banyaknya cakupan kebutuhan Persyaratan keamanan yang mesti dipenuhi : ukuran keamanan tidak sesuai untuk semua kasus dari aplikasi. Sebagai contoh, dalam distribusi sumber (pengembang) aplikasi, ukuran keamanan yang diperlukan mungkin tergantung pada sifat ressource (misalnya, publik atau rahasia), lingkungan operasi (misalnya, pariwisata jaringan atau jaringan publik), kemampuan dan kebijakan pengguna, dan lain-lain. Konfigurasi keamanan benar tidak memiliki biaya potensial: sistem dapat menjadi tidak tersedia untuk beberapa pengguna, mungkin menjadi lebih sulit untuk menggunakan atau mengakses, atau mungkin melakukan kesalahan.

Menggabungkan Keamanan Persyaratan menjadi sulit, karena. Bahkan setelah yang sesuai ukuran keamanan dapat ditentukan untuk sebuah contoh aplikasi, menggabungkan ke aplikasi dapat menjadi tidak gampang untuk pengembang. Permasalah yang sering di jumpai ketika proses layering: Hal ini biasanya tidak cukup untuk menerapkan keamanan di satu lapisan dalam sistem. Dengan demikian, mekanisme keamanan akan berjalan ketika sistem melakukan proses layering, sehingga sulit untuk memahami dan mengelola keamanan sistem secara keseluruhan.

Kebijakan keamanan berbasis telah memberikan solusi untuk mengatasi masalah ketika sistem keamanan terbagi. Dalam sistem keamanan ini, dapat disesuaikan untuk memenuhi persyaratan keamanan yang berbeda-beda yang tidak berpengaruh terhadap aplikasi. Kebijakan telah digunakan dalam konteks yang berbeda, seperti otorisasi dan kontrol akses [2], [14], rekan keamanan sesi [13], kualitas layanan dan jaminan konfigurasi jaringan [4]. Namun, tantangan dalam pendekatan adalah untuk menemukan kerangka kerja yang cocok untuk memenuhi spesifikasi, verifikasi dan implementasi. Dalam makalah ini kami mengusulkan pendekatan baru untuk spesifikasi, verifikasi dan pelaksanaan kebijakan keamanan. Pendekatan kami adalah untuk menerapkan teknologi domain bahasa spesifik dalam keamanan kebijakan untuk memecahkan masalah yang tercantum di domain ini. Berdasarkan pada analisis domain seksama, kami telah merancang kita kerangka kerja, yang terdiri dari dukungan untuk verifikasi dan pelaksanaan kebijakan dan bahasa domain yang spesifik.

Sisa dari makalah ini diorganisasikan sebagai berikut. Bagian berikut menyajikan persyaratan kebijakan framework. Bagian III membahas fitur yang diharapkan dari kerangka kebijakan. Bagian IV menjelaskan desain kerangka kami. Bagian V memperkenalkan bahasa pemrograman PPLPolicy, dengan fokus pada bahasa utama abstraksi. Bagian VI menyajikan kerja terkait, dan
Bagian VII concludes dan membahas prospek di masa depan.

 

  • Metode dan bahan

DSL yang didasarkan pada sistem terdistribusi ialah satu set teknologi yang menyediakan penghantar data digital melewati kabel yang digunakan dalam jarak dekat dari jaringan telepon setempat. Biasanya kecepatan downolad dari DSL berkisar dari 128 kbit/d sampai 24.000 kb/d tergantung dari teknologi DSL tersebut. Kecepatan upload lebih rendah dari download untuk ADSL dan sama cepat untuk SDSL. Banyak teknologi DSL menggunakan sebuah lapisan  Asynchronous Transfer Mode atau Mode Transfer Asinkron (disingkat ATM) adalah nama sebuah jaringan khusus. ATM merupakan sebuah teknologi lapisan 2, yang dapat digunakan oleh siapa saja, namun sekaligus merupakan sebuah jaringan publik sebagaimana halnya Internet, dengan sistem pengalamatan yang dikelola secara rapi, sehingga setiap perangkat di dalam jaringan dapat memiliki sebuah identitas yang unik, agar dapat beradaptasi dengan sejumlah teknologi yang berbeda.

Implementasi DSL dapat menciptakan jaringan jembatan atau routed. Dalam konfigurasi jembatan, kelompok komputer pengguna terhubungkan ke subnet tunggal. Implementasi awal menggunakan DHCP untuk menyediakan detail jaringan seperti alamat IP kepada peralatan pengguna, dengan authentication melalui alamat MAC atau memberikan nama host. Kemudian implementasi seringkali menggunakan PPP melaluiEthernet atau ATM (PPPoE atau PPPoA).

DSL juga memiliki rasio contention yang layak dipertimbangkan pada saat memilih teknologi jalur lebar. Di ujung pelanggan memerlukan sebuah modem DSL. Alat ini mengubah data dari sinyal digital yang digunakan oleh komputer menjadi sebuah sinyal voltase dalam jangkauan frekuensi yang sessuai dan kemudian disalurkan ke jalur telepon.

  • Hasil

Mengusulkan kerangka kerja untuk spesifikasi, verifikasi dan pelaksanaan kebijakan keamanan. Kerangka ini memungkinkan untuk menulis kebijakan keamanan modular dan independen dari sistem yang mendasar, yang bedasarkan dari abstraksi. Dengan demikian, kebijakan keamanan dapat diimplementasikan oleh pengembang yang awam dengan sistem keamanan komputer. Kami mulai dengan membahas unsur-unsur yang diperlukan untuk aspek kunci.

Dari menyebarkan Model pemerintah adalah distribusi otomatis kebijakan PPL untuk  komponen aplikasi mereka. PPL Kebijakan Keamanan menentukan secara eksplisit subyek dan obyek (target) yang memungkinkan distribusi otomatis kebijakan tanpa kebutuhan untuk secara manual mengatur alokasi kebijakan implementasi komponen.

  •   Diskusi dan Rekomendasi

Sebuah program PPL pada dasarnya mendefinisikan daftar blok. Blok deklarasi menjelaskan mana subyek (misalnya pengguna atau proses) yang dapat akses oleh objek (misalnya file atau perangkat perangkat) dan di mana keadaannya. Blok dapat menjadi suatu kebijakan, aturan, tindakan atau entitas, sebuah lingkup. Lingkup merupakan daftar entitas yang terlibat dalam kebijakan. Kebijakan sesuai dengan aturan urutan untuk menentukan spe-pengaturan konfigurasi yang spesifik untuk beberapa proteksi sistem; mereka dapat baik sederhana atau senyawa. Sebuah kebijakan sederhana mengacu pada daftar tindakan perlindungan diterapkan di beberapa bahasa pemrograman lain. Fasilitas ini memungkinkan ada tindakan perpustakaan untuk digunakan ulang. Kebijakan senyawa didefinisikan sebagai komposisi kebijakan sederhana. Peraturan terdiri dari serangkaian kendala pada seperangkat tindakan, mereka dapat berupa pemicu-tunggal di mana hanya satu tindakan dipicu untuk diberikan objek, atau amulti-memicu mana ganda berbeda tindakan mungkin dipicu untuk objek yang sama. Aksi bisa menjadi atom atau senyawa Berikut ini kami hadir di rincian masing-masing blok dasar yang terdiri dari PPL dan menunjukkan bagaimana mereka digunakan dalam penulisan kebijakan keamanan PPL. Kerangka kami untuk spesifikasi, verifikasi dan Implementasi kebijakan keamanan, yang disebut PPL PolicyProgramming Language, berkisar sekitar dua sumbu utama.

Sebuah dukungan extensible penyebaran untuk integrasi dan implementasi kebijakan keamanan dan Spesifikasi mudah DSL memungkinkan kebijakan keamanan dengan tingkat idiom abstraksi dalam keamanan domain. Akibatnya, ahli domain dapat menggunakannya untuk memahami, untuk memvalidasi, memodifikasi, dan seringkali mengembangkan kebijakan keamanan.

Referensi:

https://www.elektroindonesia.com/elektro/utama15a

http://asrimellia.blogspot.com/2012/05/dsl-digital-subscriber-line.